Perjalanan dari Medan ke Aceh kali ini, adalah perjalanan pertamaku keluar pulau Sumatera. Setelah semua persiapan matang, niat, tekad yang besar, berbekal keberanian, berangkatlah aku dan partner traveling ku menuju kota Serambi Mekah.

Apakah seorang ica pergi sendirian? Oh, tentu tidak seberani itu guys..

Sebelum kita lanjut ke cerita perjalananku. Aku akan kenalin partner traveling yang aku kenal melalui couchsurfing.com .

Perkenalkan nama partner traveling ku, Dewi Siregar. Beliau bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota Medan.

Hobi jalan-jalan, suka kulineran, baik, taat ibadah, dan buktinya selama di Aceh gapernah lupa akan Allah, selalu ngaji dengan al-qur’an mini nya. Salut! Istimewanya lagi, tanggal dan bulan lahir kita sama, cuma beda tahun.

Aku dan Ka Dewi di Pulau Sabang Aceh

Mau kenal ka Dewi lebih dekat silahkan mampir ke Instagram nya di @d.siregar___

Mau ke Aceh tapi belum tau persiapan apa aja yang harus di lakukan?

Bingung apa aja yang harus di bawa selama perjalanan?

Kamu bisa baca artikel ini untuk Persiapan Backpackeran dari Medan ke Aceh .

Let’s enjoy my travel story!

Hari Pertama Medan ke Banda Aceh

Sabtu, 30 Mei 2015 :

Hari yang aku tunggu akhirnya datang juga, gasabar banget mau nginjakin kaki ke tanah Aceh.  Sejak pagi, aku udah gelisaj nyiapin segala sesuatu nya.

Ngecek lagi barang bawaan ada yang kurang atau enggak, pilah – pilih lagi barang bawaan, dan mastiin kalau kursi bus sempati star yang sudah aku booking untuk aku dan kak Dewi sudah aman.

19:00 :

Aku berangkat dari kosan di Jalan Sisingamangaraja kota Medan ke jalan asrama, tempat di mana pool bus sempati star berada.

Malam itu, aku di anter sama teman baik nya mama, yang sekarang malah jadi ayah sambungku guys haha, dunia se lucu itu ya.

20:00 :

Tepat pukul delapan malam aku sudah tiba di pool bus, dan aku langsung menuju loket untuk konfirmasi tiket.

Setelah selesai, aku mampir ke rumah makan di depan nya. Rumah makan itu menjual sate madura dan soto. Wah, sudah lama sekali tidak mencicipi sate madura selama di kota Medan.

Langsung aja aku pesan seporsi sate, soto dan sepiring nasi hehe, amunisi sebelum sampai di Aceh yakan.

21:00 :

Setelah makan ka Dewi menghubungiku mengabarkan bahwa ia telah sampai di pool bus sempati star.

“Assalamualaikum Ica, ini kak Dewi”

“Hai kak, waalaikumsalam, akhirnya ketemu kita ya kak”

“Waalaikumsalam ica, kita trip bareng ya”

“Iya kak, gasabar sampai ke Aceh ya”

Akhirnya, aku bertemu langsung dengan ka Dewi for the first time. Saling bertukar cerita, tak sadar kami sudah dipanggil untuk masuk ke dalam bus.

“Aceh..Aceh..Aceh..” teriak si abang kernet bus.

“Siaaaap bang” sahut kami.

Bus Sempati Star Medan ke Banda Aceh

Bus dari Medan menuju Banda Aceh berangkat tepat pada waktu nya. Sepanjang perjalanan aku gelisah.

Setiap perjalanan aku hampir gak pernah memejamkan mata. Aku selalu terjaga untuk suatu alasan. Sepanjang perjalanan, bus hanya berhenti satu kali di rest area untuk makan dan buang air.

Perjalanan cukup panjang, aku tidak melihat apapun selama perjalanan karena gelap. Pandangan disekeliling hanyalah hutan dan kedai – kedai yang berjualan oleh – oleh.

Hari Kedua Banda Aceh ke Pulau Sabang

Minggu, 31 Mei 2015 :

Tepat pukul lima lewat tiga puluh pagi, kami tiba di Terminal Bus Batoh Banda Aceh. Suasana sejuk sangat terasa.

Kota Banda Aceh sedang diselimuti kabut, gak banyak aktifitas pagi di kawasan terminal bus, yang ada hanya bus, supir, dan kernetnya.

Dalam hati, rasanya mengucap banyak syukur. Seperti tak di sangka, seorang ica akhirnya menginjakkan kaki ke tanah Aceh. Haru campur senang sekali rasanya saat itu.

Sesampainya kami di terminal, becak motor sudah ramai menghampiri.

“Dek dek, mau kemana? Murah aja ini dek, ayok naek – naek” ucap seorang bapak dengan logat khas Aceh nya.

“Ya pak, berapa nya pak ke Pelabuhan ulee lheue?” balasku dengan logat Medan.

“25 aja nya dek, udah murah itu”

“20 ajala ya pak? Mahal kali nya 25”

“Ha boleh la, naek lah naek”

Tetap menawar ala ica haha, maklum backpacker kere guys. Kami lekas naik ke becak motor, gak tahan dengan dinginnya pagi, aku segera mengambil jaket di dalam ransel.

Sepanjang perjalanan aku gak lepas make jaket sangking dinginnya, dari Terminal Bus Batoh ke Pelabuhan Ulee Lheue pagi itu.

Perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit, jarak yang di tempuh kurang lebih 8 km.

Lokasi Pelabuhan Ulee Lheu :

Nomor Telepon : 089609702135

06:00 :

Sesampainya di pelabuhan Ulee Lheuu, kami langsung mencari kedai makan. Gak di pungkiri, perut sudah keroncongan woy, cacing di perut sudah meronta – ronta minta dikasih makan.

Kami kelaparan akibat pendingin di bus sempati star yang terlampau sejuk. Ada tiga kedai makan yang buka, kami pergi ke salah satunya untuk memesan sarapan.

Aku memesan lontong sayur dan teh panas, sedangkan ka Dewi memesan nasi gurih dan segelas susu hangat.

Kami sangat menikmatinya, masakan yang di hidangkan cukup enak dan tidak begitu mahal. Hanya Rp.15.000 untuk seporsi makan dan minuman.

06:30 :

Setelah selesai menyantap sarapan, kami segera masuk ke dalam pelabuhan. Kami mengecek, apakah loket pembelian tiket penyebrangan Banda Aceh ke Sabang sudah di buka.

Celingak- celinguk, tanya sana – sini dan ternyata emang belum di buka, loket baru di buka pukul tujuh lewat lima belas.

Sembari menunggu, kami bergantian pergi ke kamar kecil untuk membuang dosa, eh membuang hajat. Tak lupa, kami juga bergantian foto di dalam pelabuhan Ulee Lheue sebagai kenangan.

Aku dan Tourist Map Banda Aceh
Aku dan Ka Dewi di Ruang Tunggu Terminal Ulee Lheu Banda Aceh

07:30 :

Semakin siang, penumpang semakin ramai berdatangan, dan ternyata loket sudah di buka lebih awal dari perkiraan. Kami segera meluncur ke loket untuk membeli tiket kapal penyebrangan.

Harga tiket penyebrangan kapal dari pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh ke pelabuhan Balohan pulau Sabang, pada saat itu Rp.25.000 untuk kapal lambat, dan Rp.85.000 untuk kapal cepat.

Aku pilih yang mana? Ya, udah ketebak lah pasti kapal lambat, tetep onbudget ya bun haha.

Selisih Rp.60.000 antara kapal lambat dan kapal cepat, lumayan kan untuk makan selama di pulau Sabang? Nah, tiket sudah di tangan saat nya let’s go!

Siap Berangkat Banda Aceh ke Sabang

07:45 :

Waktu keberangkatan kapal kami pukul delapan pagi. Lima belas menit sebelumnya kami sudah excited masuk ke dalam kapal.

Waktu itu, kami memlilih tempat duduk di bagian atas kapal, agar bisa merasakan suasana laut dan menikmati pemandangan.

Di bagian atas kapal tersedia banyak tempat duduk, ada beberapa ruangan yang di sediakan mulai dari kursi indoor lengkap dengan tv, dan pendingin ruangan. Hingga kursi besi seadanya untuk rakyat seperti kami yang membeli tiket kelas ekonomi hahaha.

Suasana di Dalam Kapal Lambat Banda Aceh ke Sabang

08:00 :

Kapal mulai meninggalkan pelabuhan Ulee Lheue menuju pelabuhan balohan. Suasana di dalam kapal lambat ini ramai, dan penuh.

Banyak sekali pedagang berjualan, anak-anak berlarian, bapak – bapak merokok, ibu – ibu ber gossip, dan kaum – kaum backpacker kere macam kami, yang memilih kapal lambat ini sebagai transportasi menuju pulau Sabang.

Tiga puluh menit berlalu, aku mulai merasakan sedikit mual dan masuk angin yang lumayan menggangu. Aku berusaha untuk membuang pikiran ‘mabuk’ itu.

Ngomong – ngomong, ini adalah momen kedua kalinya aku naik kapal. Pertama kali, waktu masih kecil di ajak mama ke Ketapang, Kalimantan Barat dari kota Pontianak. Aku sama sekali tidak ingat apa rasanya.

09:00 :

Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan Allah untuk melihat keindahan dunia. Aku bisa melihat bagaimana dua warna air laut tidak menyatu, aku bingung mendeskripsikannya. Aku takjub, dan sangat menikmati momen.

Laut Andaman

Hari Kedua Tiba Pulau Sabang

10:00 :

Kapal mulai mendekati dermaga pulau Sabang, tepat pukul sepuluh pagi kami tiba di pelabuhan Balohan pulau Sabang.

“Waw, kak Deeeeeew liat itu nampak ikannya kecik – kecik kak” teriak ku histeris karena tak pernah melihat air biru sejernih itu.

“ya Allah kak jernih kali ya aer nya kak”

“Ih, enak kali nyebur ini” ucapku dengan nada kegirangan haha

Sesenang itu aku ketika sampai di pulau Sabang. Ka Dewi tetap stay cool, tapi aku tahu di dalam hatinya juga pasti bersyukur dan mengagumi keindahan alam ciptaan Allah.

Karena selama tinggal di Pontianak aku tidak pernah ke pantai yang sebagus dan sejernih ini, aku jadi kayak orang katrok woy haha, asli seindah itu.

10: 30 :

Hampir tiga puluh menit proses kami bergantian turun dari kapal. Setelah menginjakkan kaki di pulau Sabang, kami mencari sewa sepeda motor. Kebetulan, sebelum pergi aku sudah riset di mana saja penyewaan motor di Sabang.

Aku di Depan Gerbang Selamat Datang di Sabang, Pulau Weh

Tepat di depan pintu keluar pelabuhan Balohan, ada beberapa kedai makan yang juga menyewakan sepeda motor. Waktu itu, harga yang ditawarkan Rp.90.000/hari. Tidak menawar, kami langsung oke untuk menyewa dua hari.

Untuk penyewaan motor di Sabang tidak meninggalkan identitas apapun, abangnya hanya memfoto ktp ku saja dan bayar di awal biaya penyewaan, lalu beres.

11:00 :

Setelah minum dan oke dengan abang sewa sepeda motor, kami langsung tancap gas. Hari pertama, ka Dewi menawarkan diri untuk menyetir, aku oke aja, asal selama trip harus gantian kan, biar adil.

Perjalanan di Pulau Sabang

Tujuan awal kami adalah pantai Iboih, sesuai riset di pantai Iboih terdapat banyak penginapan murah dan pemandangan langsung ke laut.

12:00 :

Perjalanan Panjang kali guys asli panjang, aku gak ngebayangin ternyata pulau Sabang seluas itu. Jalanan nya yang berliku, walaupun emang mulus.

Jarak dari pelabuhan Balohan ke pantai Iboih itu jauh banget ternyata, 27km guys. Di tengah teriknya panas, jalanan nanjak dan berkelok, kami masih sok strong jalan terus.

Pantai Iboih

12:30 :

Tepat pukul dua belas lewat tiga puluh siang, kami sampai di Iboih. Terbayar semua rasa capek di jalan, laut yang hanya bisa aku lihat di internet, sekarang ada di depan mataku woy! Bahkan bisa aku sentuh, Masyaa Allah cipataan Allah, indah kali. Sampai tak berkedip mata ngeliat keindahan alam Aceh ini.

Di pantai Iboih, kami memarkirkan motor di halaman parkir yang telah di sediakan. Sesuai rencana awal, kami akan mencari penginapan on the spot. Penginapan di Iboih ini bervariasi harganya, mulai dari yang murah sampai mahal.

Lokasi Pantai Iboih Sabang :

Karena tujuan awal kami sama, yaitu mencari penginapan yang ada bungalow yang langsung menghadap ke laut.

Jalan terus sampai ke ujung, akhirnya kami menemukan Yulia Bungalow, yang harganya masuk akal dan cocok sama budget kami.

Yulia Bungalow ini letaknya paling ujung ya, ternyata bisa di booking via online. Kalau booking online, tamu ga perlu repot – repot jalan kaki dari parkiran ke Yulia Bungalow. Cukup telepon dari parkiran tadi, mereka akan jemput menggunakan boat gratis.

Yulia Bungalow

Harga Kamar : Rp.250.000/hari

Lokasi Yulia Bungalow Pantai Iboih :

Kalian bisa cek di google ya untuk harga paling update. Letak persisnya di sebelah Iboih Inn yang terkenal itu. Ingin sekali menginap di sana tapi ga masuk budget haha, next time deh bareng suami, Aamiin.

Yulia Bungalow Pulau Sabang

13:00 :

Setelah mendapatkan kamar dan check-in. Kami berisitirahat dan solat dzuhur, bersantai menikmati pemandangan. Duduk selonjoran di hammock balkon kamar, dan ngerasain angin yang berhembus dari seberang pulau Rubiah.

Huaaaaaaa, tak henti di dalam hati mengucap syukur pada Allah SWT atas keindahan alamnya.

Balkon Yulia bungalow Pulau Sabang

15:00 :

Tak terasa bersantai, waktu sudah semakin sore. Aku mengajak ka Dewi untuk mencari makan siang, karena kami belum makan sesampainya di pulau Sabang.

Sekalian, aku ingin menikmati pantai Iboih. Kami memilih untuk makan di luar hostel. Kami berjalan menyusuri tepi pantai Iboih, menikmati sore. Akhirnya ada satu kedai makan, yang kelihatannya tidak terlalu mahal.

Kami memesan menu yang sama, indomie rebus ditambah nasi putih hahaha. Pikiran kami waktu itu, yaudah yang penting kenyang. Karena cuma itu yang paling murah sih, lagi-lagi dengan alasan mengehemat budget.

Jangan di tiru ya, sebisa mungkin bawa bekal roti dan cemilan dari Banda Aceh yang banyak. Karena, di pulau Sabang semua harga makanan 2x lipat lebih mahal.

16:00 :

Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk kembali ke hostel. Santai sore di lobby Yulia Bungalow yang langsung menghadap ke laut.

Lobby Yulia Bungalow Pulau Sabang

Tiba-tiba spontan aku bilang sama ka Dewi.

“Kak ica mau snorkeling kak, yuk kak?”

Tanpa berpikit ka Dewi langsung mengiyakan untuk ikutan snorkeling.

Bertanya sama pegawai Yulia Bungalow, apakah menyediakan alat-alat untuk snorkeling, dan ternyata mereka punya dengan harga murah.

Satu paket kacamata snorkel, kaki katak, dan pelampung di sewakan hanya Rp.50.000/hari.

17:00 :

Setelah menyewa alat snorkeling di hostel, kami lekas berganti kostum. Aku sudah sangat siap untuk nyebur, gak sabaaaaaaar!

Enaknya menginap di hostel yang langsung menghadap ke laut itu, kita gak perlu jauh – jauh cari spot untuk snorkeling.

Langsung bisa nyebur dan nyemplung di depan lobby hostel, alam bawah laut nya Masya Allah indahnya, bayangin di tengah lautnya seindah apa ya.

Snorkeling di Iboih Pulau Sabang
ka Dewi di Iboih Pulau Sabang

Walaupun hanya snorkeling di tepi, tapi bawah laut pantai Iboih sudah indah menurutku. Banyak ikan nemo berkeliaran, ada bintang laut, terumbu karang yang terawat, dan air yang jernih.

Air di pantai Iboih ini segar sekali, aku susah mau mendeksripsikannya. Kalian harus datang langsung ke pulau Sabang, untuk ngeliat dan ngerasain betapa indahnya.

ikan Nemo di Bawah Laut Iboih Pulau Sabang
Look at that beach! Sanagt Jernih.

Sayang sekali, semasa snorkeling ini aku gak punya kamera underwater. Jadi, aku maksa makek kamera digital Nikon ku yang aku masukkan ke dalam pouch anti air.

Alhasil setelah snorkeling ini, kejadian yang membuatku sedih. Kamera pertama ku rusak mati total, terkena air laut :(. Jadi pelajaran banget buatku gausah sok ngide haha

18:30 :

Setelah puas snorkeling, main air, berenang, dan menikmati alam bawah laut pulau Weh. Kami, segera naik ke kamar karena sudah mau magribh, kami lekas mandi dan solat.

Tidak lupa kami menikmati sunset di balkon kamar, sampai aku terhanyut kedalam sinar mataharinya, indah tiada tara.

Matahari Sore di Pulau Sabang

20:00 :

Malam tiba, ka Dewi masih dengan bacaan Al – qur’annya. Sementara, aku sudah lelah sekali. Seperti biasa pilek ku kambuh, dan aku memutuskan untuk tidur lebih cepat.

Malam itu, ombak besar sekali menghantam batuan di tepi pantai, derunya sampai bikin aku terbangun. Aku langsung terbayang kejadian Tsunami Aceh beberapa tahun lalu.

Keesokan harinya.. Baca kelanjutan ceritanya di Part 2 yuk :

4 Persiapan Backpackeran dari Medan ke Aceh

-WS-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here