Sejarah Singkat Angkor Wat

Angkor Wat adalah salah satu situs arkeologi terpenting di Asia Tenggara dan masuk ke dalam situs warisan dunia oleh UNESCO World Heritage. Kompleks Angkor terletak di provinsi utara negara Kamboja, tepatnya di kota Siem Reap. Kompleks Angkor membentang seluas 400 km². Angkor merupakan peninggalan pusat peradaban Kerajaan Khmer. Angkor dikenal sebagai situs utama yang menunjukkan nilai-nilai budaya, agama dan simbolik, serta mengandung makna arsitektural, arkeologi dan artistik yang tinggi.

Sebagai mahasiswa tata kota pada waktu itu tentunya aku belajar banyak hal di sana, aku takjub dengan megah nya kota kuno ini. Peradaban luar biasa pada jaman dahulu membuktikan bahwa orang-orang yang hidup di era itu bukan orang biasa. Waduk air yang besar, kuil-kuil besar seperti Angkor Wat, Bayon Temple, dan Ta Prohm merupakan contoh arsitektur Khmer yan dijiwai dengan signifikansi simbiolis. Arsitektur dan tata letak ibu kota yang baik menjadi saksi tingkat tinggi tatanan sosial dalam Kekaisaran Khmer.

Angkor Wat
Angkor Wat Heritage dari Satelit Google
Angkor Wat
Angkor Wat Complex dari Satelit Google

Angkor Wat berdiri di abad ke 12, jika dihitung sekarang sudah hampir satu abad. Awalnya Angkor Wat dibangun sebagai candi hindu yang berkiblat kepada Dewa Wisnu oleh Raja Khmer Suryawarman II dan seiring berjalannya waktu entah bagaimana Angkor Wat berubah menjadi candi Buddha hingga sekarang meskipun dalam perjalanannya sempat dirusak pada masa komunis.

Banyak sekali stupa dan patung yang hancur, kepala patung yang hilang, bangunan candi yang roboh, tetapi tidak menghilangkan nilai sejarah nya. Angkor wat ini adalah candi kebanggaan penduduk Kamboja, sampai saat ini menjadi sangat penting mengingat pendapatan masyarakatnya bersumber dari pariwisata dari Angkor World Heritage. Saking penting nya, Angkor wat sampai di letakkan di bagian tengah bendera negara Kamboja. Keren kan?

Angkor Wat
Bendera Cambodia & Thailand di Perbatasan Imigrasi

Kompleks Angkor sangat cocok dikunjungi oleh masyarakat yang ingin tahu tentang sejarah pada peradaban Khmer, juga untuk study tour mahasiswa arkeologi, geologi, aristek, teknik tata kota, teknik sipil, dan bahkan jurusan sejarah sekalipun akan senang mengunjungi kompleks Angkor ini sekalian belajar tentang peradaban kekaisaran Khmer yang luar biasa.

Angkor Wat
Welcome Angkor

Tiba di Cambodia

Tepat pukul 10 malam kami tiba di Poipet, kota kecil yang berbatasan langsung dengan border imigrasi antara Thailand dan Cambodia. Rencana awal kami akan tiba di Cambodia pada sore hari tetapi ada sedikit peristiwa tak terduga di Bangkok yang mengakibatkan aku dan sahabatku ketinggalan kereta dan harus berangkat dengan kereta berikutnya. Jadilah tiba di Cambodia pada malam hari.

Setelah melewati proses imigrasi yang lumayan ribet, panjang dan melelahkan juga menguras emosi karena ada kejadian seru aku adu mulut dengan petugas imigrasi Cambodia karena membela temanku yang dari Prancis dan Italia. Singkat cerita dua teman kami yang baru saja kami temui di kereta api di paksa sama petugas imigrasi untuk membayar sejumlah uang padahal paspor warga Prancis dan Italia tidak harus membayar sepeserpun jika ingin masuk ke negara Cambodia begitu juga paspor Indonesia. Fiuuuuh, ternyata pungutan liar a.k.a pungli ada di mana-mana ya 🙂

Setelah urusan dengan petugas imigrasi Cambodia yang mencoba korupsi itu selesai, kami bergegas memutuskan untuk sharing cost taxi menuju penginapan dikarenakan waktu sudah cukup malam dan bus gratis dari pemerintah Cambodia sudah tidak beroperasi di atas jam delapan malam, sayang sekali pemirsa huhu jadi gagal mau hemat, tidak masalah asal sampai penginapan dengan selamat betul?

Angkor Wat
When France meet Italy

Menuju Kota Siem Reap

Setelah melewati proses tawar menawar yang pelik, dapat lah kami di harga 43$ USD untuk 4 orang, iya USD kalian ga salah baca kok USD geng, Cambodia adalah negara pertama di Asia Tenggara yang menggunakan USD sebagai mata uang lokal selain Laos. Itu kenapa aku tidak berlama-lama di negara ini, karena pada waktu itu aku masih menganut paham backpackeran yang sangat on budget 😀

Perjalanan menuju kota Siem Reap sekitar 2,5 jam dari Poipet, supir taksi melaju kencang dengan mobil nya dan jalur kendaraan mobil di Cambodia itu sebelah kanan, berlawanan dengan negara kita Indonesia. Aku cukup shock dan berdoa sepanjang perjalanan karena dari depan kaya mau ditabrak, jalanan gelap banget udah gak keliatan apapun ngeliat kanan dan kiri hutan aku pasrah aja tapi untungnya ada Laura temen traveller asal Italy yang bertemu di kereta api dari Thailand menuju Cambodia itu.

Allhamdulillah neng Laura gabisa diem sepanjang perjalanan dia bertanya tentang Indonesia, dari mulai Bali sampai bertanya dimana kota kelahiranku dan mengapa bisa kuliah di berbeda pulau dan pokoknya dia sangat ingin tahu tentang Indonesia dan alhasil perjalanan yang menentang maut gak berasa sama sekali karena aku excited menjelaskan betapa besar dan luas nya Indonesia kepadanya.

Tibalah kami di sebuah hostel yang sudah kami pesan melalui Booking.com karena terkecoh murah ternyata itu hostel angker bangeeeeet gustiii, Subhanallah aku kalau mengingat cerita di hostel ini bisa merinding sendiri. By the way, karena si Laura dan Thibaud belum dapat hostel jadilah dia ikut menginap bersama kami tetapi beda kamar.

Malam setelah kami beberes dan mandi, Laura mengajak berkeliling kota kecil ini untuk mencari kedai makan yang masih buka, dan malam itu pilihan kami makan di kedai western. Aku dan Alwi saling terdiam ngeliat menu nya karena ga biasa ngeliat harga dengan $$$ wuahaha dan kami hanya memesan satu small pan pizza dan aglio e olio karena kedua itu yang harganya menurut kami masih masuk akal, 4$ USD untuk dua menu tadi.

Jelajah Angkor Wat

Waktu subuh, supir tuk – tuk yang kami sewa dari rekomendasi supir taxi semalam ternyata sudah di depan hostel, ada telepon masuk ke kamar kami, kami tidak mau angkat karena beberapa kali di malam itu telepon berdering tapi di angkat tidak ada suara nya, tak lama resepsionis hostel mengetuk kamar kami mengatakan bahwa si supir tuk-tuk sudah menunggu di depan hostel dan kami belum mandi, alhasil kalang kabut mandi bebek. Karena sebelum pergi aku sudah research tentang maraknya penipuan oleh supir tuk-tuk terhadap wisatawan tapi Allhamdulillah kali ini Allah maha baik, aku dan geng dapat supir tuk-tuk yang baik dan tidak menipu sama sekali hingga akhir perjalanan.

Angkor Wat
Kami dan Tuk-tuk Cambodia

Pukul lima pagi kami tiba di depan gerbang kompleks Angkor Wat, dengan mata yang masih sayup – sayup dan ternyata wuadaaaaw wadidaw udah super ruame polllllll yang antri untuk membeli tiket dan foto, wait what? Foto? Foto apa?
Ya, foto seperti mau foto paspor yang nanti di cetak bersamaan dengan tiket masuk kamu.

Sambung cerita perjalanan Pengalaman Terbaik Menjelajahi Angkor Wat di Part 2 ya : baca di sini! 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here